HEAVEN ON TEARS / POST HARDCORE WASTED FROM REALITY / METALCORE A ROAD TO MAYHEM / METALCORE MY GOD /Black Death Metal - Death Metal MY GOD /Black Death Metal - Death Metal Gallery Gallery

post:

M. Taufiq Rahman : Jurnalisme musik tidak sedangkal dunia hiburan


Tulisan tentang musik selama ini hanya menjadi sebuah hiburan penghias halaman-halaman majalah atau surat kabar di Indonesia. Tidak seperti berita-berita di desk lain, tulisan seputar musik seringkali dianggap bukan sebagai bagian karya jurnalistik yang sastrawi. Padahal di negeri Paman Sam era 90-an, salah satu tulisan tentang musik pernah menjadi salah satu alat protes pada Pemerintah Amerika mengenai keadaan sosial politik saat itu.
Apakah jurnalisme musik di Indonesia masa sekarang hanya sebagai penghangat rubrik hiburan pada koran-koran pagi? Apakah jurnalisme musik tidak memiliki fungsi kontrol sosial seperti yang terjadi di Amerika pada masa dulu?
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal-hal tersebut, Aldo Fenalosa, berkesempatan mewawancarai M. Taufiqurrahman, ditemui di Lapangan Blok S, Jakarta saat gelaran Speak Fest (10/12). Saat ini Taufiq Rahman menjadi news editor untuk harian berbahasa Inggris The Jakarta Post. Lulusan politik Northern Illinois University ini juga merupakan penulis rutin di situs Jakartabeat.net dan kolom musik di harian The Jakarta Post.
Dalam menulis tentang musik, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah pada 34 tahun yang lalu ini berbeda dari kebanyakan penulis lain. Tulisan-tulisannya adalah alat propaganda dan kritik sosial bagi lingkungan yang diamatinya. Wawancara berlangsung di Lapangan Blok S, Jakarta  Selatan, Sabtu (10/12) pagi.

Sejak kapan anda menulis di kolom musik di harian Jakarta Post?
Saya secara profesional dan resminya kan sebagai jurnalis politik di Jakarta Post, mulai bekerja di Jakarta Post tahun 2002. Tapi terus terang baru pada tahun ketiga, saya resmi menjadi reporter di bagian seni budaya dan musik. Tapi sejak awal saya sudah sering menulis musik, walaupun itu tidak pernah menjadi jobdesk saya karena saya awalnya adalah reporter politik.

Bagaimana cara anda menimbulkan ide untuk menulis?
Lebih kepada pemahaman bahwa musik tidak berdiri sendiri, musik adalah bagian dari suasana sosialnya, saya percaya itu. Sebenarnya musik bisa menjadi penyampai pesan anti perang, dan saya pikir menulis musik harus punya misi seperti itu. Saya terus terang lebih tertarik untuk menulis musik seperti itu.

Bagaimana proses kreatif anda menulis?
Pekerjaan saya menulis, saya tidak menunggu inspirasi datang untuk menulis. Metode saya, ketika saya ada ide satu jam kemudian harus sudah selesai. Jadi saya tidak suka menunda-nunda. Dan itu menjelaskan mengapa saya lumayan produktif, tulisan saya menjadi banyak. Saya orangnya tidak sabaran, jadi kalau sedang ada ide saya ingin segera mengkomunikasikannya pada orang banyak, jadi ya harus sudah ditulis.

Anda mendirikan Jakartabeat.net bersama rekan anda, media yang juga memuat tulisan tentang musik
Ya, waktu saya mendapatkan beasiswa untuk sekolah ke Chicago, saya ketemu Philips di sana. Karena kita sama-sama cinta musik akhirnya membuat blog “Berburu Vinyl”, saya mulai sering menulis dengan bahasa indonesia di blog tersebut. Jadi saya sejak saat itu sama seringnya menulis bahasa Inggris di Jakarta Post dengan menulis bahasa Indonesia di blog itu tentang musik. Ya kira-kira pada 2007 akhir mulai di Jakartabeat dan sekarang lebih malahan lebih sering menulis musik di Jakartabeat.
Mengapa demikian?
Di Jakarta Post kadang-kadang saja karena sekarang saya juga sudah menjadi editor, jadi sudah tidak banyak waktu lagi untuk menulis.

Pernahkah anda mendapatkan penghargaan atas tulisan anda?
Tidak. Terus terang saya tidak suka ikut lomba-lomba seperti itu karena di Indonesia itu kan sistemnya gini; kalau anda mau berkompetisi, itu anda mau mengirimkan tulisan anda ke mereka untuk dinilai. Saya tidak suka model seperti itu karena di luar negeri, misalnya Pulitzer, mereka punya komite yang pekerjaannya itu adalah memonitor tulisan siapapun. Jadi mereka langsung yang melakukan penilaian, bukan saya mengirimkan tulisan ke mereka. Kalau di sini terlalu birokratif, anda harus bikin lamaran, mengirimkan tulisan, harus ada stempel dari kantor bahwa anda jurnalis di sana. Saya pikir itu bukan cara yang baik untuk berkompetisi. Saya juga tidak percaya pada otoritas penilaian birokrasi di Indonesia.

Apa perbedaan menulis di Jakartabeat dengan di Jakarta Post?
Mungkin masalah teknis. Di Jakarta Post tulisan tentang musik itu mingguan, sebelum tulisan dimuat banyak proses yang dilewati. Selain itu juga ada keterbatasan tema, ada keterbatasan pembahasannya. Kalau di media mainstream itu ada konteksnya gitu, tidak bisa tiba-tiba. Kalau di Jakartabeat saya punya kebebasan untuk menulis apa saja. Ada lebih banyak kebebasan di media online. Dan itu kemudian membuat saya yakin bahwa masa depan jurnalisme itu ada di internet, walaupun sebenarnya saya bekerja di printed media. Semua sudah go online.

Seperti apa idealisme koran sebesar Jakarta Post?
Jakarta Post itu karena dia koran berbahasa Inggris jadi ada kebebasan kreatif yang besar, jadi bisa menulis tentang banyak hal juga. Saya mendapat kebebasan yang luar biasa untuk mengkritik siapapun. Kita sudah biasa mengkritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di situ. Saya menulis berkali-kali tentang mencemooh, memaki-maki Presiden di Jakarta Post. Tapi kadang-kadang menulis di Jakarta Post itu terlalu politis, itu koran mainstream.

Mengapa anda menjadi jurnalis musik?
Mungkin karena saya lebih cinta musik. Saya tidak bisa bermain musik tapi karena kecintaan saya yang besar terhadap musik kemudian membuat saya ingin lebih tahu banyak tentang musik dan kemudian saya menemukan bahwa musik itu punya kekuatan sosial, kekuatan politik yang sangat kuat. Tadi pagi saya menonton BBC, di sana ada wartawan musik Iran gitu kan, dia pernah menjadi tentara di perang Iran melawan Irak. Dia melihat pembunuhan dan kekejaman perang, saat itu juga dia menemukan musik dan musik itu yang bisa menghapuskan semua kejahatan yang telah dia lihat di perang. Dan saya pikir saya melihat musik juga seperti itu, bahwa musik itu mungkin bukan pelarian tapi yang masih bisa membuat kita itu menjadi manusia, membuat jiwa kita lebih halus. Dan saya percaya itu. Ketika saya mendengarkan musik, musik yang baik terutama, saya masih percaya bahwa manusia bisa punya kualitas yang baik, masih ada harapan untuk umat manusia untuk jadi lebih baik karena musik. Itu universal dimana semua orang bisa memilikinya.

Padahal anda memiliki latar belakang pendidikan politik
Saya memang belajar ilmu politik, tapi pengetahuan politik saya tidak terlalu banyak dibanding Philips. Kalau hanya menulis tentang politik saja, saya pasti kalah dengan Philips atau orang-orang lebih mendengarkan ilmuwan-ilmuwan yang lebih mengerti tentang bidang itu. Saya sedikit mengerti tentang musik dan juga sedikit mengerti tentang politik, saya berusaha menggabungkan dua pemahaman itu. Karena memang hubungannya jelas dan saya punya argumen yang kuat untuk mengatakan bahwa musik punya kekuatan politik jadi saya tertarik untuk lebih sering memahami musik dan keterkaitannya dengan politik. Kalau kemudian ada yang membaca dan kemudian tertarik, itu adalah penilaian pembaca. Saya hanya ingin menyampaikan pesan, berbagi cerita bahwa musik itu bagian yang penting dari politik dan sosial.
Tulisan anda lebih mengkritisi, jauh berbeda dengan kebanyakan jurnalis yang menulis berita tentang musik
Kita belum terlalu banyak belajar, jurnalis musik di Indonesia masih agak malas untuk membaca literatur di luar musik. Padahal bila dia membaca literatur-literatur di luar musik, dia pasti akan menemukan bahwa begitu banyak dimensi-dimensi dari musik ketimbang hanya soal musik itu sendiri. Misalnya bila membaca tulisan tentang musik grunge sebagai akibat suasana sosial politik Amerika tahun 90an, tulisan itu menjadi kaya aspek, kuat sebagai sarana kritik sosial zaman itu.

Sebagai alat kritik sosial, mengapa jurnalisme musik di Indonesia masih tidak bisa eksis?
Sebenarnya itu masalah lama, media massa musik datang dan pergi secara tidak jelas. Saya pikir itu lebih pada tidak adanya tradisi kritik seni terutama, tidak hanya kritik musik. Tradisi kritik musik di Indonesia tidak terlalu berjalan sebenarnya. Misalnya kalau anda lihat di seni rupa, orang-orang yang menjadi kritikus seni adalah orang-orang yang punya galeri, atau orang-orang yang berjualan produk kesenian. Jadi dia pasti bercerita yang baik-baik saja tentang karya seni yang akan dijual supaya harganya tinggi dan laku. Hal seperti itu saya pikir juga berlaku di industri musik. Paling ketika ditanya siapa kritikus musik di Indonesia ya orang-orang paling hanya menjawab Remy Sylado, ya orang-orang zaman dulu saja. Itu menunjukan tradisi kritik itu yang mandek di Indonesia. Saya tidak tahu apakah juga ini ada hubungannya dengan penindasan Orde Baru, bahwa orang-orang tidak boleh berbeda pendapat. Padahal jurnalisme musik itu sebenarnya kan jurnalisme kritik musik. Kalau misalnya jurnalisme musik melaporkan konser hanya dengan 5W plus 1H, orang yang nonton juga sudah tahu. Harusnya yang lebih penting kita berbicara musik itu lengkap dengan konteks suasana sosialnya.

Nyatanya jurnalisme musik hanya dianggap sebagai hiburan semata
Mungkin karena Indonesia adalah negara dunia ketiga, jadi pengamat seni lebih mengarahkan perhatian pada seni-seni tradisional. Itu yang kemudian dianggap dengan produk seni yang serius. Orang yang mengerti dan menulis tentang itu lebih mudah dianggap sebagai ahli budaya, berbeda dengan orang yang membahas dan menulis tentang budaya pop. Selain itu industri budaya pop di Indonesia juga belum established. Industri musik dan industri kritik musik juga tidak pernah ada sebenarnya. Banyak juga orang atau institusi yang menyebut dirinya kritikus musik dan jurnalis musik tapi tidak mengerti pada apa yang ditulisnya.

Apakah hal ini menurut anda ada hubungannya dengan kurikulum jurnalistik di bangku pendidikan yang lebih condong ke berita konvensional?
Ya, Di Indonesia yang memasukan kurikulum kritik seni kontemporer masih belum ada. Bahkan pembelajaran jurnalisme sastrawi juga belum menyeluruh, kalaupun ada ya tidak banyak. Birokrasi kampus memang selalu telat, kurikulum yang diajarkan sekarang bisa saja dari dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu.

Bagaimana pengamatan anda terhadap pendidikan?
Pendidikan di Indonesia terlalu banyak bla bla bla, dan itu yang kemudian mengambil lebih banyak waktu anak-anak kita. Mereka di sekolah menjadi banyak kegiatan belajar ekstra yang sebenarnya tidak essensial tapi dibiarkan seperti itu karena memang sudah lama terjadi dan susah berubah. Jadi anak-anak itu pola pikirnya jadi tidak bisa fokus pada satu hal. Banyak remeh temeh yang tidak penting membuat anak-anak menjadi susah kritis terhadap lingkungannya.

Menurut anda bagaimana caranya agar jurnalisme musik bisa memasyarakat?
Mungkin yang harus dilakukan jurnalis musik adalah bahwa memahami musik itu tidak hanya hiburan, tapi ada banyak hal untuk bisa dikomunikasikan. Ada banyak hal yang bisa di definisikan oleh musik. Jurnalis musik yang cerdas harus bisa melakukan itu agar bisa menaikan jurnalisme musik lebih dari sekedar entertainment. Menuliskannya juga jangan hanya dengan format hiburan. Jangan dianggap bacaan sambil lalu, tulisan tentang musik itu sebenarnya bisa sangat serius bila lebih mendalaminya.

Apa tanggapan anda tentang zine yang banyak muncul?
Saya pikir bagus ya, yang saya perhatikan dari zine lokal itu mereka tidak hanya berbicara mengenai musik saja dan itu hal yang baik. Kalau hanya berbicara mengenai musik saja toh sudah banyak yang melakukan di berbagai blog yang ada kan. Zine di sini lebih peduli pada masalah-masalah sosial, tidak hanya melulu soal musik. Itu menariknya. Sebagian ideologi dari mereka kan masuknya dari musik gitu loh. Ya dia banyak melawan, jadi dia punya banyak produk perlawanan. Menarik bahwa di tengah industri mainstream yang mencekik ada perlawanan-perlawanan kecil. Dan yang dibutuhkan sekarang adalah mensinergikan itu untuk menciptakan perubahan.

Bagaimana penilaian anda pada jurnalis di Indonesia secara umum?
Selain jurnalis-jurnalis yang pemalas itu, saya pikir masih ada jurnalis yang melakukan tugasnya dengan benar. Saya pikir Tempo masih melakukan tugas itu, dia selalu ekspos korupsi. Jakarta Post itu selalu mengkritik otoritas, saya tahu persis karena saya ada di dalam. Kita terbiasa mengkritik bukan karena pak SBY, tapi power tends to corrupt. Siapapun yang ada di kekuasaan, anda harus yakin dia pasti korup. Masih banyak media di Indonesia yang melakukan kritik sosial untuk itu. Cuma, anda tau sendiri media sekarang juga bermain politik, Media Indonesia punya Surya Paloh, Viva news punya Bakrie. Di satu sisi ada media yang bertahan untuk melawan, tapi di sisi lain mereka juga korup. Tapi kan itu biasa, di barat juga ada Fox yang korup juga, tapi kan juga ada New York Times yang konsisten dari awal untuk melawan, mengekspos korupsi. Saya pikir Indonesia sudah di jalan yang benar, kita termasuk negara yang bebas dalam pers. Jurnalis-jurnalis Indonesia sebagiannya juga sudah menggunakan kebebasan itu untuk kebaikan.

Apakah juga terjadi pada jurnalis musik?
Mungkin belum untuk di jurnalisme musik karena juga jurnalisnya belum banyak baca, belum tau apa yang harus diperjuangkan dengan jurnalisme musik.

Sampai kapan anda akan menulis?
Saya akan terus menulis, mau dibayar mau tidak. Menulis itu menurut saya sebenarnya bukan pekerjaan, karena itu adalah salah satu sarana komunikasi paling dasar bagi umat manusia. Saya paling tidak memberi alternatif untuk berdiskusi melalui tulisan saya. Saya akan menulis sampai kapanpun.

Apakah anda juga akan membukukan tulisan anda nanti?
Ya, saat ini saya sedang melakukan tahapan menulis sebuah buku tentang perjalanan saya menulis tentang musik. Saya berharap awal tahun 2012 buku tersebut bisa diterbitkan.

sumber : gigsplay.com
Continue Reading»

Mengenang Etta James di Blues on Reds


Me and The Sunflower membuka acara “Blues On Reds” berlanjut di minggu ketiga Februari dengan membawakan lagu “Johnny B Goode” karya Chuck Berry. Terbentuk sejak Maret 2009, Me and The Sunflower merupakan band Blues yang memiliki sentuhan Rock & Roll. Dengan digawangi Rangga (Vocal, Harmonica), Andi (Gitar), Razif (Gitar), Anggie (Bass), dan Xeno (Drum), awalnya mereka membawakan karya-karya musisi ternama, seperti BB King, Rolling Stone, Stevie Ray Vaughan, John Mayer, dll. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, mereka memutuskan untuk menciptakan dan memainkan lagu karya sendiri.
Beberapa lagu karya Me and The Sunflower yang dibawakan tadi malam adalah “I Remember You With Love”, “Keys”, dan “Love”. Selain itu, mereka juga membawakan lagu “Mawar Merah” Slank dan “Come Together” The Beatles. Penampilan mereka pun ditutup dengan lagu “Woke Up This Morning” lagu karya BB King yang populer tahun 1950-an. Permainan harmonica dari Rangga ini pun membuat suasana lebih hidup, sehingga penikmat Blues yang hadir puas dengan penampilan Me and The Sunflower.

Acara pun berlanjut dengan penampilan Devara & Friends. Band blues ini terbentuk pada Agustus 2011 dengan formasi Devara (Vocal, Gitar), Jarot (Bass), dan Didi (Drum). Musik Devara & Friends dipengaruhi sejumlah musisi Blues, seperti BB King, Jimi Hendrix, Robben Ford, dan John Mayer. “Bluesman” BB King menjadi pembuka dari penampilan mereka. Selain itu, mereka pun membawakan “Fever For The Bayou” karya Tab Benoit dan “I’m Gonna Find Another You” karya John Mayer. Para penonton pun sangat menikmati penampilan mereka.

Ada yang special dari “Blues On Reds” tadi malam. Devara & Friends mengundang salah satu temannya, Revi Swan untuk membawakan beberapa lagu Etta James yang merupakan musisi Blues asal Amerika yang sudah memulai karirnya sejak 1950-an. “Tribute to Etta James” ini ditujukan untuk mengenang beberapa karya Etta James yang wafat pada bulan Januari yang lalu. Etta James dikenal sebagai musisi Blues dengan segudang prestasi. Selama perjalanan hidupnya, beliau mendapatkan sejumlah penghargaan, seperti Grammy Lifetime Acheivement Award tahun 2003, serta Best Contemporary Blues Album dan Best Traditional Blues Album untuk album “Let’s Roll” di tahun 2004. 

 “Tribute to Etta James” dimulai lagu “I’d Rather Go Blind”, salah satu lagu blues klasik yang banyak direkam ulang oleh beberapa musisi Blues. Suara Revi yang lantang pun membuat para penikmat Blues tercengang. Selanjutnya mereka membawakan “All I Could Do Was Cry”. Penampilan kolaborasi ini pun ditutup dengan lagu “At Last”, lagu Etta James yang populer pada tahun 1960-an. Antusiasem penikmat Blues semakin memuncak saat menyaksikan penampilan mereka.
Acara pun ditutup dengan aksi jam session dari beberapa musisi yang hadir. Mereka pun bergantian tampil di panggung dan menunjukkan kebolehannya.  Jam session pun semakin memanas ketika membawakan “Red House” Jimi Hendrix. Razif dan Devara pun berkolaborasi dengan Dudy dan Gilang yang memainkan harmonika. Semakin malam suasana “Blues” pun semakin terasa. Para penikmat Blues yang hadir pun memberikan applause yang meriah. Acara pun ditutup dengan lagu “Hoochie Coochie Man” Muddy Waters.
Nantikan “Blues On Reds” selanjutnya di Kopi Merah Jum’at 24 Februari 2012. Akan ada special performance dari Bagas & The Trio dan Merrick & The Black Face.

Tulisan: Katia Nasution
Sumber : Gigsplay.com

Continue Reading»

SUFFER INC A CONCERT PRESENT: DIVIDE AND IN LEAGUE INDONESIAN TOUR2012 (ALBUM PROMO)


“2012 menjadi tahun penentu arah kemajuan industri musik di Banten!” ujar sang promotor musik kawakan asal serang-banten yang telah menekuni industri musik di banten bersama suffer,Inc. Selama hampir 9 tahun. Kali ini MisterMattz selaku promotor Musik dari suffer,Inc. Bekerjasama dengan sebuah Merk Sepatu International MACBETH untuk menggelar event akbar tersebut pada tanggal 10 Maret 2012. Sang promotor Mempersiapkan 3 Main Talent yang tengah melakukan promo album. Band pertama adalah In League (Australia), Devide (JKT), SKY ON EYE (JKT). Ketiga band tersebut akan menjalani tour indonesia. Dan kota pertama yang djadikan sasaran promo mereka adalah Serang-Banten.

Tak hanya ke-3 band tersebut yang di boyong oleh sang promotor untuk meramaikan event akbar pada 10 Maret nanti, sang promotor pun bekerja sama dengan Sebuat label asal jakarta yaitu Firecatz records milik Dadi (SUPERGLAD). Yang akan menampilkan 3 Band luar biasa & enerjik. Band tersebut adalah: Three Years waiting (sounds like 30 second to mars), Boy Hate Summer (sounds like four year strong), Social Black Yelling (sounds like metallica).

Tak ingin kalah taring, band lokal asal serang-banten pun tengah dpersiapakan oleh sang promotor dengan proses audisi yang di gelar pada tanggal 20 Februari 2012 hingga 4 maret 2012. Ayoo daftarkan segera band kalian untuk mengikuti proses audisinya…

Dalam event nanti Sang promotor sangat ingin memberi sajian yang lebih menarik dan belum pernah diperlihatkan kepada para penikmat musik di banten. Konsep seperti apakah yang akan dsajikan oleh sang promotor bersama suffer,inc.??? dan Siapakah band lokal yang beruntung untuk tampil sebagai band pembuka tour besar tersebut… Hubungi sang promotor untuk info lebih lanjut…


Continue Reading»

Adele: Nggak 5 Tahun Kok, Cuma 5 Hari!


Penyanyi wanita sukses asal Inggris yang baru saja memenangi 6 Grammy Awards, Adele akhirnya mengklarifikasi pernyataan dirinya mengenai rencana beristirahat dari karirnya. Sebelumnya, Vogue Magazine merilis berita beserta pernyataan dari interview Adele kalau Adele telah memutuskan untuk vakum selama 4-5 tahun. 

Dikutip dari Aceshowbiz , Adele meralat pernyataan tersebut dan menyatakan hanya akan vakum selama 5 hari saja. "Aku punya beberapa hari untuk istirahat sebelum menghadiri Brit Awards dan setelah itu aku akan masuk studio rekaman lagi." ungkapnya
"BOYAAAAAHHHH! 5 tahun? 5 hari kali." jelas Adele. 

Pada perbincangannya dengan Vogue, Adele mengungkapkan dirinya vakum dari dunia menyanyinya karena ingin lebih fokus kepada hubungannya dengan sang kekasih Simon Konecki. Namun nampaknya, setelah Adele mengkonfirmasi kalau dirinya hanya akan beristirahat sebentar, fans Adele bisa bernafas lega.

Sumber : Hai-Online
Continue Reading»

The Maine Keluarkan Video Baru


Band alternatif rock asal Arizona, Amerika Serikat, ini telah mengeluarkan sebuah video baru yang diambil lewat album yang terakhir mereka rilis, yaitu album Pioneer (2011). Dalam album Pioneer ini terdapat sebuah lagu berjudul 'Misery'. Dan The Maine mengeluarkan video klip untuk lagu 'Misery' ini. Album yang melambungkan nama The Maine dikancah musik internasional ini memang cukup laku dipasaran dibandung dua album The Maine sebelumnya, Can't Stop Won't Stop (2008) dan Black & White (2010). Simak videonya disini.




Continue Reading»

Evanescence; Segera Gelar Konser di Indonesia


Band rock asal Amerika, Evanescence, akan menyapa fans tanah air melalui konser “Evanescence Live in Jakarta 2012″ yang akan digelar 25 Februari mendatang yang bertempat di Hall A, Prj Kemayoran. Promotor Showmaxx Entertainment mengaku cukup puas bisa mendatangkan Evanescence ke Indonesia setelah melakukan serentetan usaha.
 
“Konser ini sudah ditunggu sejak tahun 2004. Perjuangan mendapatkan konser Evanescence sangat panjang,” kata Sherwin Djajadi selaku Direktur Showmaxx saat ditemui di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Januari silam. “Kami sudah membuat riset di jejaring sosial dan responnya luar biasa. Kami optimis karena Evanescence punya market sendiri.”

Nantinya, grup yang dimotori oleh Amy Lee dan Ben Moody (hengkang tahun 2003) ini akan membawakan total 22 lagu selama dua jam lebih. Selain menyanyi, Evanescence juga akan mengadakan interaksi dengan penonton.

Tiket konser ini dibanderol mulai harga Rp 500 ribu untuk kelas Festival B. Sedangkan kelas Festival A tiket dijual seharga Rp. 700 ribu, serta Rp 1,2 juta untuk kelas VIP. Namun untuk pre-sale, fans bisa mendapatkan tiket lebih murah, yaitu Festival B hanya seharga Rp 300 ribu dan Rp 500 ribu untuk kelas Festival A.

Evanescence adalah grup rock modern asal Amerika yang didirikan di Arkansas tahun 1995 oleh penyanyi dan pianis Amy Lee dan gitaris Ben Moody. Mereka merilis album berjudul “Fallen” di tahun 2003 yang kemudian sukses besar dan terjual 7 juta copy di Amerika Serikat dan 17 juta copy di seluruh dunia.
Continue Reading»

Four Year Strong; Konser di Bali dan di Jakarta


Rangkaian tur Four Year Strong (FYS) yang bertajuk ‘Indonesia Tour 2012′ akan digelar di Hard Rock Cafe Bali, pada 15 Februari 2012 (opening act ‘King Of Panda’) dan di Bulungan Outdoor, Jakarta, pada tanggal 16 Februari 2012 (opening act ‘Billfold’) yang di promotori oleh Petersaysdenim. 

FYS berdiri sejak tahun 2001 dan telah merilis empat studio album, ‘Its Our Time’ (2005), ‘Rise Or Die Trying’ (2007), ‘Enemy Of The World’ (2009), dan ‘In Some Way, Shape, or Form’ (2011). Juga sebuah album yang berisi Cover Songs yaitu ‘Explain It All’ (2009). Diperkuat oleh vokalis sekaligus gitaris Dan O’Connor dan Alan Day, bassis Joe Weiss, serta drummer Jackson Massucco.

FYS meraih popularitas ketika merilis album ‘Rise Or Die Trying’ di tahun 2007, album ini berbeda karena mereka memasukan instrumen Synthesizer dalam lagu-lagunya, hingga album ‘Enemy Of The World’ dan ‘Explain It All’. Pada Album ‘In Some Way,Shape, or Form’, FYS menghilangkan Synthesizer seiring dengan keluarnya pemain synthesizer mereka, Josh Lyford.
Bersiaplah guys untuk menyaksikan kemeriahan konser mereka nih

sumber : dapurletter.com
Continue Reading»

Suffer Inc. Audition Band For Concert


Setelah event kemarin yang bertemakan " WALK TOGETHER WALK FOREVER " Suffer Inc siap mengempur kembali pencinta musik underground dengan sebuah concert yang akan di langsungkan pada bulan November ini, tema untuk event selanjutnya ini " NOVEMBER BREAK " dan juga Suffer Inc. membuka peluang untuk kalian yang ingin ikut berpartisipasi dalam event ini dengan membuka sebuah audisi untuk band band yang siap dan memiliki talenta dan semangat untuk menghibur pencinta musik atau juga ingin unjuk kebolehan pada masyarakat bahwa band kalian layak untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik .

Suffer Inc. membuka kepada semua band yang ingin mengikuti audisi, apapun genre musik kalian tunjukan pada masyarakat siapa yang terbaik dari yang baik, untuk mengikuti audisi yang akan di adakan Suffer Inc kalian bisa membaca rules dibawah ini : 

1. Mengisi Formulir yang bisa kalian download dibawah ini
2. Setelah mengisi formulir, kalian bisa membawa formulir tersebut ke D KINNAN SON atau hub 
3. Untuk mengikuti audisi dikenakan biaya 50rb/band
4. Untuk info lebih lanjut bisa mention ke twitter @MisterMattz atau @suffer_inc

Download Form Audition : Click Here
Continue Reading»

Blink 182 mengumumkan single terbaru mereka

Blink 1823 telah meluncurkan sebuah single terbaru yang berjudul Up All Night. Lagu itu terungkap sembilan jam lalu melalui www.blink182.com situs resmi kelompok mana sekarang streaming di sub-situs khusus www.blink182.com/upallnight .


Mereka menerima 8000 pesan di salah satu postingan di facebook untuk lagu terbaru mereka ini dan lagu ini akan dapat dibeli dan tersedia di iTunes pada 16 July ini.
Continue Reading»

Event : The Spirit of Peace and Music Festival! August 19-21 - Freeport, IL


This summer, Scully Entertainment, LLC is holding a new event titled The Spirit of Peace and Music Festival. The Spirit of Peace & Music Festival seeks to bring together the best of the nations' up and coming artists while giving some of the worlds' best emerging bands a national platform and launch pad.

The three day event kicks off Friday, August 19th, 2011 with 40+ artists showcasing some of the best, hardest working indie bands from across the world, along with internationally established groups.

Chevelle, Everclear, Filter, BoDeans, Los Lonely Boys,Tonic, Joshua James, Big Head Todd and The Monsters, and Davin McCoy, with 40+ up and coming artists are rocking the stages! With artists and vendors also showcasing their wares on festival grounds, all participants are working toward a common goal: bringing back the spirit of peace and music and putting Freeport on the musical map of the world.

A grassroots project through and through, the residents of the town of Freeport, IL are intimately involved in every aspect of The Spirit of Peace and Music Festival supported by Mayor George Gaulrapp, with citizens and local businesses investing both money and product to make the event a success not only this inaugural year, but for many years to come. More than 40,000 people are expected to attend.

The setting is in Freeport, Illinois, in the midst of America's heartland. The festival grounds are surrounded by corn fields, barns, grain silos, and grazing livestock - a pastoral setting that will temporarily be rocked by 40,000 visitors who come seeking a weekend of brotherhood and high quality music in this peaceful, rural setting.

About Scully Entertainment, LLC: Patrick Scully is an Entertainment Specialist with a flair for putting the "Wow" into corporate and special events. As Founder and Creative Director of Scully Entertainment, he has produced hundreds of bold and imaginative shows for companies across Northern Illinois and is initiating one of the hottest showcasing festivals in North America.

The Production Team - A collection of the country's most successful festival producers form the SOPAM production team:

David Hogan: (Hogan Entertainment) is Operations Director for mutiple festivals and venues in the US including the Spirit of the Suwannee Music park Live Oak, Florida. David is one of the industry's most well respected and successful festival operations guy and has assisted the Spirit of the Suwannee Music Park in becoming the Souths #1 live music venue that features well known events such as Wanee, The Suwannee River Jam & The Bearcreek Music Fest. David has more than 20 years experience in all elements of festival production. There is no detail too small, nor too complicated for David. He delivers a seamless, organized, quality production every time.

Fred Brennan: Known regionally and nationally as one of the most talented entertainment bookers of his generation, Fred is a walking encyclopaedia of music- of all genres, all decades and is a master of rock and roll trivia.

Spring boarding out of a 20-year radio career on-the-air and as a major market Program Director, Fred Brennan jumped into the deep end of directing, programming, and producing live entertainment in his hometown of Chicago. From 2001 to 2009, Fred's portfolio included programming and producing more than 25 festivals and 4 concert series annually; booking and handling over 6,000 bands in the process.

Since that time, his "soup to nuts" ethic with talent and production has been utilized by National Touring Clients, Concerts and Festivals around the country, and with Music Placement Firms for Film & Television, where he has been brought in to assist

Purchase Tickets: Ticket Fly - www.ticketfly.com

Website: www.spiritofpeaceandmusicfestival.com
Continue Reading»

Event : Grassroot Showcase #2, ROCK’N ROLL REVOLUTION


Setelah bulan lalu sukses dengan Grassroot Showcase #1 Efek Rumah Kaca,
Berisik Radio kembali hadir dengan Grassroot Showcase-nya yang kedua, yang kali ini mengangkat tema “ROCK’N ROLL REVOLUTION | ‘Transformasi BRNDLS’ ”.

Yaa, ini tentang Rock n Roll, juga revolusinya. Sejak Era- Elvis hingga Jimi Hendrix perubahan itu memang sering di lakukan, bahkan ketika The Beatles merilis album ‘Revolusi’ di mana mereka merubah dan meng ekplor sound, music, lirik mereka.

The Brandals tentu tidak sedang berjudi dengan memutar arah music dan memutuskan melakukan perubahan besar di rilisan ke 4 album mereka di bawah naungan Sinjitos record. Ya ini Revolusi musik, dimana The Brandals yang biasanya frontal dan riot kini tampil lebih terkendali.

Sir Dandy, nama yang tidak biasa dengan prilaku dan kemampuan tidak bisa pula, music design dikemas unik dan sangat menarik untuk di nikmati, ini seperti mengajarkan, bahwa Musisi itu harus bisa melakukan apapun yang berhubungan dengan keratifitas u/ menunjang pergerakan'nya.

Dan GRASSROOT SHOWCASE #2 “Rock n Roll Revolution” menghadirkan :
 BRNDLS
• Sir DANDY
• WONDERBRA
• THE AFTERMILES
 ROGER A

MC masa masa kini dan nanti Lucu :
• GILANG & ADJIS Doa Ibu
(yang 'Insyaallah untuk menghormati Alm.Zainudin MZ,pada hari minggu diacara #grassrootshowcase @berisikradio akan memutarkan ceramah2 beliau sblm acara dimulai)

Jelas sekali kalian harus datang meramaikan pesta FREE ENTRY / GRATIS TANPA HTM dan GoodyBags dari MEJIKU Gratis bagi pembawa CD album terbaru BRNDLS DNGR8

Info MENTION @berisikradio
Rudy / Anca / Mahdesi / Amyr : 085695946531


Continue Reading»

Gig Review: The Drums Live at Jakarta


DNA seorang penari jelas tertanam kuat dalam tubuh seorang Jonathan Pierce. Blowfish, Jakarta, 25 Mei 2011, adalah saksinya. Sepanjang konser berangsung, lelaki ini mampu membakar stamina penonton dengan liukan tubuhnya. Dengan ukuran panggung yang kecil, serta penonton yang begitu rapat tanpa pembatas di bibir panggung, tidak sulit bagi Jonathan untuk membuat penonton berada di bawah kendalinya.
Tapi salah jika ada yang menyebut The Drums semata ada pada sosok Jonathan saja. Karena dua core-member mereka, Connor Hanwick dan Jacob Graham adalah otak dibalik segala bebunyian yang terdengar pada malam itu. Connor, yang pada malam itu menyabotase gitar, berdiri bisu di ujung kiri panggung, sementara Jacob berkonsentrasi pada tumpukan keyboard dengan sesekali menggerakkan tangannya mengatur tempo bagai seorang dirigen dalam upacara bendera. Kebetulan saya berdiri tepat di depan Myles Matheny, additional gitaris/bassis mereka, dan saya juga menikmati aksinya. Terutama pada cabikan bass-nya yang mengingatkan saya pada Joy Division, sang nabi bagi para penganut post-punk.
Saya mengamati bahwa hampir seluruh lagu yang mereka bawakan pada malam itu, dibuka dengan hentakan drum. Begit naik ke atas panggung, The Drums tanpa basi-basi langsung menggeber ‘What You Were’ yang menjadi sumbu pembuka malam itu. Lagu rayuan gombalan pada sang pujaan hati, ‘Me and The Moon’ langsung dimainkan setelahnya. Jeda pasca lagu kedua, Jonathan sedikit bercerita bahwa lagu yang akan mereka mainkan berikutnya bercerita tentang sahabat baiknya, yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Penonton yang tahu lagu apa yang dimaksud Jonathan, langsung menggelinjang begitu hentakan drum membuka ‘Best Friend’ yang dimainkan sebagai lagu ketiga.
Dengan hanya bermodal satu album dan satu EP, awalnya saya ragu konser ini akan dipadati penonton. Ternyata perkiraan saya salah dengan melimpahnya penonton malam itu. Terlebih banyak diantara mereka yang hapal lirik The Drums luar-dalam, bahkan untuk lagu-lagu baru mereka sekalipun. ‘Let’s Go Surfing’ tentu saja adalah puncak dari segalanya. Anthem ini bagai pisau tikam yang siap menusuk siapapun yang berani menolak bergoyang begitu intro ini dibunyikan. Begitu besar dampak lagu ini hingga akhirnya membuat Connor berhenti bertingkah bagai zombie bisu. Inilah satu-satunya lagu dimana dia memasang raut muka yang ekspresif yang membuatnya tampak lebih manusiawi. ‘Forever and Ever, Amen’ adalah lagu terakhir sebelum The Drums turun panggung, lalu kembali lagi membawakan encore.
Total jenderal, tiga buah encore dibawakan sekembalinya The Drums dari balik panggung. ‘The Future’ yang menjadi lagu terakhir di album perdana mereka, terpilih menjadi lagu penutup malam itu. Sebenarnya saya sangat menikmati konser malam itu, juga untuk sound-system yang cukup nyaman di telinga. Sayangnya durasi konser yang hanya satu jam saja, terasa menyisakan ganjalan saat saya bergerak pulang begitu konser berakhir. Kalau boleh berandai, mungkin malam itu akan lebih sempurna jika The Drums menyiasati pendeknya durasi konser mereka dengan menambahkan beberapa cover-version (misalnya) dari The Smiths, Joy Division, atau musisi manapun yang mereka suka. Saat di akhir konser Jonathan mengungkapkan harapannya untuk dapat menyambangi Jakarta lagi tahun depan, saat itu pula saya berdoa, semoga jika hal itu terjadi, mereka bersedia membawa set-list dengan durasi yang lebih panjang demi melunasi ejakulasi musikal saya yang tertunda.
Continue Reading»

Eyes Set to Kill – Live in Indonesia – 8 & 9 July 2011 @ Jakarta & Bandung


Eyes Set to Kill (also abbreviated ESTK) is an American rock band from Tempe, Arizona. Sisters Alexia and Anissa Rodriguez, along with former vocalist Lindsey Vogt started the band in 2004. Lindsey Vogt departed the band in mid-2007 due to issues with management. Lindsey would go on to form a solo project known as “The Taro Sound”, and eventually formed the band “The Attraction.” After Lindsey’s departure, Alexia assumed her position as lead vocalist as well as guitarist. The World Outside received widespread critical acclaim and the group was featured on the cover of USA Today, as one of Alternative Press Magazine’s “100 Bands You Need To Know”, and hosted an episode of MTV’s Headbangers Ball. Broken Frames was ranked fifth on the list of “Locals Only: The Best Albums and EPs in 2010″.
Continue Reading»

Play Mates – Kuda Besi

Band rock n’ roll dengan vokalis perempuan penuh tenaga dan groove rythm section yang memiliki skill diatas rata-rata orang seusia mereka yang masih belia. Belum lama ini merilis sebuah single berjudul Kuda Besi yang bercerita mengenai motor tua yang belum menyerah pada umur dan masih bisa membelah jalanan ibukota dengan suaranya yang gahar.Menurut saya rilisan ini sangat menarik, mengingat beberapa tahun belakangan ini jika ada band mengaku “rock n’ roll” atau garage rock biasanya hanya mengkopi riff yang itu-itu lagi dan koncinya ga berubah-ubah, sementara Play-Mates bukan hanya sekedar mengkopi, tetapi memberikan ‘soul’ pada setiap lagunya, dan saya terus terang bahagia mendengarkan lagu Kuda Besi disini.
Single ini berisi 6 track yaitu Kuda Besi, Godaan, Tuangkan, Kuda Besi (instrumental), Aku tak ingin malam ini berakhir, dan versi akustik dari Kuda Besi. lagu-lagu lain tidak sekuat lagu Kuda Besi namun tetap menunjukkan kualitas yang baik dan hampir tidak mungkin badan mu tidak bergoyang mendengarkan lagu-lagu nya.

Play Mates - Kuda Besi Akustis Download
Coba kontak mereka di www.facebook.com/play.mates.music untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Continue Reading»

Jacky Chan Meninggal ?

Saat ini banyak rumor beredar bahwa Jackie Chan, aktor laga nan kocak dari Hongkong tersebut diberitakan telah meninggal di beberapa situs jejaring sosial. Terutama di situs Twitter yang banyak memberikan bahwa aktor dalam film Drunken Master telah meninggal. Status ‘jackie chan die’ banyak ditulis oleh pengguna Twitter, tetapi itu tentu saja tidak dapat menjadi jaminan bahwa aktor yang hampir pasti melakukan adegan berbahaya dalam filmnya tersebut benar-benar meninggal.
Banyak yang berkomentar bahwa kematian Jackie Chan disebabkan karena terlalu capek dalam beraktivitas dan terkena serangan jantung. Hal yang belum pasti itu datang saat Jackie tengah mempersiapkan film terbarunya yaitu Kungfu Panda 2 yang tentu tidak kalah menarik dibandingkan dengan Kungfu Panda yang meledak penontonnya. Berikut ini kutipan dari situs berita luar negeri yang memberitakan bahwa Jackie Chan meninggal atauJackie Chan die atau disebutkan RIP Jackie Chan.
A Los Angeles hospital has reported that Jackie Chan has passed away. The legendary Hong Kong actor who appeared in over 100 films died last night following a heart attack. He was promoting his most recent film, ‘Kung Fu Panda 2′. Doctors say his heavy schedule was causing extreme stress and putting too much pressure on his heart. Chan was scheduled to fly to Hong Kong today to begin shooting on his next film ’1911′.
The actors family has not yet issued a statement in regards to the passing of the truly remarkable actor who died at the young age of 56. Fans swarmed Facebook after confirmation of his passing came through a source close to Chan. A couple of celebrities have also posted their personal tributes through face book. Will Smith; “A remarkable actor, he will be forever missed and always in our hearts. RIP Jackie. x”
Even United States President Barack Obama laid down a personal tribute to the martial artist saying: “Jackie Chan is a man who can talk through talent, he is a constant reminder of the strength of humanity. He will forever be in our hearts, a true inspiration who inspired many generations. First it’s Nate Dogg then it’s Jackie Chan.”

MTV will be holding a special memorial for Chan on Friday.
Kita tunggu saja kebenaran berita kematian Jackie Chan ini. Saat ini sudah banyak rekan twitter yang menyanggah bahwa aktor dalam film Police Story tersebut telah mati. Semoga gosip ini cuma hoax sehingga para fans Jackie Chan masih bisa melihat aksi kocak dan lucu pada setiap film yang dibuatnya.
Continue Reading»

Bukan Rayuan Gombal , Tato Cinta di Jantung

Jantungku Terukir Namamu, kalimat ini bukan lagi sebuah rayuan gombal basa basi kepada pasangannya yang tidak mungkin menjadi nyata dizaman sekarang ini

Walaupun mengeskpresikan cinta melalui tatto bukanlah hal yang baru di zaman sekarang ini, akan tetapi jika tatto di jantung lain lagi persoalannya bukan? Cukup Unik dan Menarik bukan? Hehe
Sebuah Website mewujudkan hal ini menjadi nyata buat anda pengemar tatto yang ingin mengekspresikan cinta dalam bentuk yang lebih ekstrim.

Situs tersebut mengatakan "cara ini tidak lah begitu aman akan tetapi lebih berbahaya lagi jika tidak mengekspresikan cinta sejati anda".

Waktu yang di butuhkan untuk mengukir tatto sekitar 3 jam dengan biayanya sekitar $9000 sampai $1200 tergantung tingkat kesulitannya. Setelah selesai anda akan di berikan foto dan rekaman video plus sountrack "Vikunja" mengabadikan momen operasi tersebut.

Jangan takut jika anda mengalami perceraian setelah membuat tatto karena akan ada diskon khusus perceraian jika Anda bisa membuktikan pasangan Anda berselingkuh. Dalam beberapa kasus, mereka merekomendasikan Anda untuk menutupi tato lama Anda dengan yang baru.
Continue Reading»

HARRY POTTER Bakal Dijadikan Film Porno



Setelah Batman, Superman, dan The Simpsons menjadi inspirasi film dewasa, kali ini giliran film terkenal HARRY POTTER. Bahkan, film porno berdasarkan film penyihir remaja ini akan dimunculkan dalam versi 3D!
 
Adalah Hustler Video yang berencana mengadaptasi kisah petualangan tiga sahabat, Harry, Ron, dan Hermione, menjadi sebuah film erotis. Film yang akan segera digarap ini bahkan sudah memiliki judul resmi, yakni THIS AIN'T HARRY POTTER XXX 3D.

"Kami sangat bersemangat melanjutkan tren yang kami mulai dengan THIS AIN'T AVATAR XXX 3D dan THIS AIN'T GHOSTBUSTER XXX 3D. Kami mendapat kesempatan untuk belajar dari dua film sebelumnya, terutama yang berhubungan dengan efek 3D, untuk mengubah parodi Harry Potter menjadi sebuah film Hollywood sejati," ungkap Drew Rosenfeld, Creative Director dari Hustler Video.

"Selain itu, dengan Harry, Ron, dan Hermione yang sudah menginjak umur 18 tahun dan semuanya sudah dewasa, ini adalah kesempatan yang bagus untuk memparodikan karakternya, dan mempersembahkan imajinasi kami atas apa yang terjadi di balik pintu-pintu Hogwarts yang tertutup," lanjut sang Director.

Walau sudah sangat pasti akan segera digarap, para pemeran untuk film yang akan dirilis akhir tahun ini masih belum akan ditentukan. Apakah Daniel Radcliffe , Emma Watson , dan Rupert Grint? Oh, no!


( Source : http://www.ekodokcell.co.cc )
Continue Reading»

 
Copyright 2011 Insomnia Webzine. All rights reserved.
Themes by Epewe l Insomnia Entertainment | Powered By Bali Orange